kenangan yang perlahan memudar
Hari cerah Itu di Citayam bersama kenangan yang perlahan memudar
Langit Citayam mulai gelap ketika aku dan Hira memutuskan mampir ke gerobak bakso langganan di pinggir jalan. Gerobak itu sederhana, dengan lampu temaram yang menggantung di tenda, menerangi wajah-wajah pelanggan yang datang silih berganti.
"Aku pesan bakso urat ya," kata Hira sambil menyandarkan tubuh kecilnya ke kursi plastik merah. "Kamu?"
"Sama. Tapi jangan lupa pangsit gorengnya."
Dia tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuat detak jantungku tidak karuan.
---
Hujan gerimis mulai turun. Tetesan airnya berkilau terkena lampu jalan, menciptakan semacam tirai tipis yang memisahkan kami dari hiruk-pikuk kota. Kami memilih duduk di sisi paling pojok, tempat di mana suara kendaraan sedikit mereda, digantikan oleh gemerisik hujan dan suara air mendidih dari panci bakso.
"Mbak, mas, baksonya sudah!" tukang bakso—mungkin sudah sepuh—meletakkan dua mangkuk di meja kami. Asap mengepul hangat, aroma kaldu sapi dengan sedikit sentuhan bawang goreng langsung menyergap.
Hira mengambil sumpit. Gerakannya lambat, seperti sengaja menikmati setiap momen. Dia menyendok kuah terlebih dahulu, meniupnya perlahan, lalu menyesapnya dengan mata yang menyipit puas.
"Enak banget," katanya, suaranya hampir berbisik. "Kayaknya bakso ini yang terenak se-Citayam deh."
"Aku tahu kamu bakal bilang begitu."
"Kok tahu?"
"Karena kamu selalu bilang begitu setiap kali kita makan di sini."
Dia tertawa kecil. Suara tawanya selaras dengan suara hujan, membuat malam ini terasa berbeda dari biasanya.
---
Aku memperhatikan Hira saat dia memisahkan bakso urat favoritnya ke dalam sendok. Wajahnya teduh di bawah lampu temaram. Ada garis tipis di dahinya yang muncul ketika dia fokus, sesuatu yang mungkin tidak disadari orang lain. Tapi aku menyadarinya. Aku menyadari segalanya tentang dia.
"Kenapa melongo?" dia menoleh, satu alis terangkat.
"Bukan melongo. Menikmati pemandangan."
"Pemandangan apa? Gerobak bakso yang belel ini?"
"Pemandangan yang sedang menikmati bakso di gerobak belel ini."
Hira membuang muka. Tapi di balik gelap malam, aku bisa melihat ujung telinganya memerah.
---
Kami makan dalam diam yang nyaman. Bukan diam canggung yang penuh tanya, tapi diam yang terisi oleh segalanya—oleh bunyi hujan di atas tenda, oleh denting sendok sumpit, oleh hangatnya kuah yang perlahan menurunkan suhu tubuh kami.
Di tengah diam itu, tiba-tiba Hira menyodorkan satu butir bakso ke arahku.
"Untuk kamu," katanya. "Yang ini paling besar."
Aku menerimanya. "Karena aku paling besar?"
"Karena kamu selalu memberiku pangsit goreng yang paling renyah. Ini balasannya."
Rasanya hangat. Mungkin karena baksonya baru matang. Atau mungkin karena hal lain yang tidak berani aku beri nama.
---
Ketika mangkuk mulai kosong, hujan pun mulai reda. Tersisa rintik-rintik kecil yang jatuh dari atap-atap bangunan sekitar. Lampu-lampu jalan mulai terlihat lebih jelas, begitu juga wajah Hira.
"Aku suka malam-malam seperti ini," katanya tiba-tiba.
"Malam hujan?"
"Malam di mana aku bisa duduk lama tanpa harus buru-buru pulang. Malam di mana semuanya terasa... pelan."
Dia menatap jalanan yang basah, sesekali membiarkan jemarinya mengusap tetesan air yang tersisa di meja. Aku ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku suka setiap malam yang dihabiskan bersamanya, di mana pun. Bahwa aku ingin malam-malam seperti ini tidak hanya terjadi kadang-kadang. Bahwa aku ingin—
"Hira."
"Ya?"
"Aku... seneng banget tiap kali bisa kayak gini sama kamu."
Dia menoleh. Matanya bertemu mataku. Untuk beberapa detik, hanya ada suara tetesan air dari tenda ke aspal.
Lalu dia tersenyum. Bukan senyum yang sering kulihat—senyum untuk teman, senyum untuk basa-basi. Ini senyum lain. Senyum yang seolah berkata, aku juga.
"Lain kali kita ke sini lagi, ya," katanya. "Cari tahu apakah baksonya masih yang terenak se-Citayam."
"Aku setuju. Tapi aku tidak butuh bukti."
"Kenapa?"
"Karena bagiku, bakso ini sudah yang terbaik. Sebab aku menikmatinya bersamamu."
---
Hira diam. Lalu dia menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu jangan ngomong gitu kalau aku masih pegang sendok," katanya, suaranya terdengar teredam. "Nanti sendoknya jatuh."
Aku tertawa. Dia ikut tertawa.
Di bawah langit Citayam yang mulai bersih setelah hujan, di antara kursi plastik merah yang sedikit goyang dan meja kayu yang sudah usang, aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu butuh tempat mewah. Kadang, cukup dengan semangkuk bakso hangat, gerimis yang menemani, dan seseorang yang membuatmu ingin malam ini tidak pernah berakhir.
---
Setelah membayar, kami berjalan beriringan di trotoar yang masih basah. Sesekali lengan kami bersentuhan. Aku tidak tahu apakah itu sengaja atau tidak, tapi aku tidak akan menggeser tanganku.
"Tanganmu dingin," kata Hira.
"Kamu juga."
Dia menggenggam tanganku. Perlahan, tapi pasti.
"Supaya hangat," katanya, matanya tetap lurus ke depan.
Aku menggenggam balik.
Dan dalam langkah yang sama-sama pelan, kami meninggalkan gerobak bakso itu. Namun aku tahu, suatu saat nanti, kami akan kembali lagi.
Ke tempat di mana cerita ini mulai tumbuh.
Di Citayam, di malam yang gerimis, dengan bakso yang rasanya seperti pulang.
---
Tamat
Komentar
Posting Komentar