cinta yang memudar

Cinta kita, seperti lukisan yang indah, tapi warnanya telah memudar, meninggalkan bekas luka yang tak dapat dihapus. 💔

Gerimis tipis menyambut langkahku saat kaki ini menginjakkan kaki di kawasan Stadion Pakansari. Bogor memang tidak pernah ingkar janji soal rintik hujannya. Di sini, di hamparan aspal yang dulu sering kita kelilingi sambil berbagi cerita remeh, suasananya masih sama. Angin pegunungan yang menyelinap di antara celah bangunan masih membawa aroma yang serupa. Bedanya, kali ini aku datang sebagai peziarah kenangan, bukan lagi sebagai bagian dari "kita".
Aku melangkah menuju Masjid Nurul Wathon. Arsitekturnya yang megah berdiri kokoh, seolah menjadi saksi bisu betapa seringnya kita mampir ke sini untuk sekadar meneduh dan menenangkan hati. Di teras masjid yang sejuk, aku sempat tertegun. Aku teringat bagaimana dulu kamu selalu menungguku di batas suci dengan senyum yang menurutku jauh lebih menenangkan daripada aroma tanah basah setelah hujan. Hari ini, aku bersujud di sana sendirian, merapikan doa-doa yang sedikit berantakan karena namamu masih terselip di antaranya.
Aroma Legenda di Cangkir yang Sepi
Setelah sholat, perutku mulai menagih janji, tapi hatiku lebih merindukan sesuatu yang hangat. Aku menepi ke sebuah kedai kecil yang masih setia menyajikan Kopi Cap Liong Bulan. Aroma kopi legendaris itu menyeruak, tajam dan khas, membangkitkan memori tentang sore-sore panjang yang pernah kita lalui.
Aku menyeduhnya pelan. Uapnya menari-nari di udara, persis seperti bayanganmu yang mendadak muncul di kursi kosong di hadapanku. Dulu, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan satu cangkir kopi, membicarakan masa depan yang saat itu tampak begitu nyata. Kini, kopi ini terasa sedikit lebih pahit dari biasanya, atau mungkin lidahku saja yang kehilangan penawarnya.
Skakmat dalam Keheningan
Di sudut kedai, ada sebuah papan catur kayu yang warnanya sudah mulai memudar. Aku menarik kursi, menata bidak-bidak itu satu per satu. Bermain catur bersamamu dulu adalah ritual wajib. Kamu selalu suka menggunakan Queen’s Gambit, sementara aku lebih senang bertahan dengan King’s Indian. Kita tidak hanya bertukar strategi, tapi juga bertukar tawa di setiap langkah yang salah.
Aku memindahkan pion ke E4, menunggu lawan yang tak kunjung datang. Biasanya, kamu akan membalas dengan gerakan cepat sambil meledek strategiku yang terlalu kaku. Sekarang, aku bermain melawan diriku sendiri. Di atas papan hitam-putih ini, aku menyadari bahwa kehilanganmu adalah sebuah skakmat yang paling tidak bisa kuprediksi. Kamu adalah bidak menteri yang paling berharga, dan tanpamu, permainanku kehilangan arah.
Jarak yang Tak Terukur
Bogor tidak berubah. Jalanannya yang padat, pohon-pohon besarnya yang rindang, hingga bau kuliner khas di pinggir jalan, semuanya masih seperti dulu. Yang berubah hanya arah langkahmu. Kamu yang dulu sedekat nadi, kini perlahan menjauh, bermetamorfosis menjadi asing yang paling aku kenal.
Aku duduk menatap kerumunan orang di sekitar Pakansari yang mulai menyalakan lampu-lampu kendaraan. Mungkin benar kata orang, tempat akan selalu tetap di sana, namun manusia di dalamnya akan terus bergerak. Kamu telah melangkah jauh melampaui koordinat yang pernah kita bangun bersama, meninggalkan aku yang masih betah menjalin rindu di kota hujan ini.
Sore itu, di bawah langit Bogor yang perlahan menggelap, aku menyadari satu hal. Kota ini akan selalu menyimpan jejakmu, dan setiap tegukan Liong Bulan akan selalu memanggil namamu. Aku pulang hari ini, membawa hati yang sedikit lebih berat. Bukan karena kotanya yang sepi, tapi karena di antara ribuan orang di Pakansari, hanya satu kehadiran yang kucari, dan itu bukan lagi milikku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

langkah terindah

cerita indah di Sukabumi