cinta pada sepotong kudapan

Hari itu aku berkunjung ke Museum Nasional bersama Hira. Setelah lelah berkeliling, kami memutuskan untuk mampir ke kantin. Aroma makanannya menguar hangat, tapi mataku justru tertarik pada etalase kudapan tradisional—kue lumpur, klepon, dan pastel yang masih mengepul tipis.

"Kita cobain yang itu, yuk," tunjuk Hira pada jajanan pasar yang tersusun rapi.

Aku mengangguk. Kami memesan dua porsi, lalu duduk di sudut ruangan yang temaram oleh cahaya senja dari jendela besar.

Hira mengambil sebutir klepon, menggigitnya perlahan, lalu matanya menyipit bahagia. "Ayah dulu sering banget beliin aku ini," katanya lirih. Kalimat yang terekam jelas di ingatanku: "Ayah, enak."

Bukan sekadar tentang rasa. Ada cara Hira mengucapkannya—lembut, penuh rindu, tapi juga hangat. Seolah di antara kepulan uap teh jahe dan gigitan klepon, ia sedang memeluk bayangan ayahnya yang tak lagi bersamanya.

Aku hanya tersenyum, mengambil serbet, dan tanpa sadar menyeka sudut bibirnya yang terkena gula merah. "Masih enak?" tanyaku.

Hira menatapku lama. Bukan tatapan biasa, tapi seperti sedang mencatat momen ini di ruang paling aman di hatinya.

"Lebih enak karena kamu di sini," jawabnya pelan.

Kantin museum itu tak mewah. Lantainya sedikit lengket, kipas angin berputar lambat, dan suara pengunjung lain samar. Tapi di situ, di antara kudapan tradisional dan senja yang perlahan tenggelam, aku merasa menemukan sesuatu yang tak kalah berharga dari koleksi museum: kehangatan yang tak lekang waktu, dan seseorang yang rela berbagi kenangan paling manisnya tanpa takut dihakimi.

Hira menggenggam tanganku di atas meja. Jarinya dingin, tapi entah kenapa aku merasa hangat.

"Lain kali," kataku, "kita cari klepon yang lebih enak dari ini. Berdua."

Ia mengangguk, dan di sudut kantin yang usang itu, kami berdua tersenyum seperti sedang memulai koleksi baru: kenangan pertama dari sekian banyak kenangan yang akan kami ukir bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

langkah terindah

cerita indah di Sukabumi

cinta yang memudar