biarkan aku sunyi

Biarkan aku jadi sunyi di dekatmu,
yang tak kau dengar,
tapi selalu ada—
menjaga tanpa perlu terlihat.

Aku akan tetap di sini,
seperti bayangan di bawah langkahmu,
tak menghalangi, tak meminta,
hanya memastikan kau tak sendiri.

Jika hadirku terlalu ramai,
biarkan aku berubah jadi bayang—
yang tak mengganggu langkahmu,
namun selalu setia mengikuti arahmu.

Senja turun pelan di sudut warung kopi itu. Langit berwarna jingga, seperti luka yang belum benar-benar sembuh. Di atas meja kayu sederhana, dua cangkir kopi cap Liong Bulan masih mengepulkan aroma pahit yang hangat—pahit yang entah kenapa terasa jujur, seperti perasaan yang tak sempat diucapkan.

Di hadapanku, papan catur terbentang. Hitam dan putih. Sederhana, tapi selalu rumit—persis seperti kita.

Kamu duduk di seberang, menatap bidak dengan serius. Seolah dunia hanya tentang langkah berikutnya, bukan tentang aku yang diam-diam memperhatikanmu lebih dari permainan ini.

“Aku jalan duluan ya,” katamu pelan, menggeser pion ke depan.

Aku tersenyum tipis.
Seperti biasa, kamu selalu berani maju.
Dan aku… selalu memilih diam.

“Aku akan jadi bayang-bayang aja,” ucapku akhirnya, hampir seperti bisikan yang tenggelam di antara suara sendok dan gelas.

Kamu terdiam sebentar.
“Bayang-bayang?”

“Iya… yang nggak ganggu. Tapi tetap ada di samping kamu.”

Kamu nggak jawab. Hanya kembali melihat papan catur. Tapi dari caramu menahan napas, aku tahu—kamu dengar.

Permainan berlanjut. Kuda melompat, gajah menyerong, ratu bergerak bebas. Tapi hatiku tetap di satu posisi: bertahan.

Aku sengaja bermain biasa saja. Tidak terlalu menyerang, tidak juga benar-benar kalah. Karena aku tahu, kalau aku terlalu serius, mungkin permainan ini akan cepat selesai. Dan aku… belum siap kehilangan momen duduk berdua seperti ini.

Angin sore membawa dingin. Senja mulai redup.

“Kopi kamu dingin,” katamu tanpa menatapku.

“Biarin… aku emang suka yang pahitnya lama,” jawabku pelan.

Seperti perasaan ini.

Aku menatap bayangan kita di lantai—dua siluet yang berdampingan. Dekat, tapi tak pernah benar-benar menyatu.

Mungkin memang itu takdirku.
Menjadi bayangmu.

Tak pernah kamu genggam,
tapi selalu ada di setiap langkahmu.

Sampai akhirnya kamu berdiri, merapikan tas, dan berkata,
“Aku harus pulang.”

Permainan belum selesai.
Tapi kita memang nggak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun, kan?

Aku hanya mengangguk.
Melihatmu pergi, perlahan menjauh dari meja, dari papan catur, dari aku.

Dan di sisa senja itu, aku masih duduk di sana—
menemani kopi yang mulai dingin,
dan perasaan yang dari awal…
tak pernah punya tempat. 🌙

Komentar

Postingan populer dari blog ini

langkah terindah

cerita indah di Sukabumi

cinta yang memudar